Seputar Sejarah,Romantika kehidupan,Pendidikan,Ekonomi,Sosial,Hukum,Politik,Gaya Hidup dan Agama

Jumat, 20 April 2012

SEJARAH KOTA SERANG

Perlu diketahui, Kota Serang merupakan kota termuda di Provinsi Banten. Kota ini merupakan wilayah pemekaran Kabupaten Serang yang telah berusia 481 tahun. Kota Serang ditetapkan melingkupi enam kecamatan.

Berdasar data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Serang tahun 2006, Kota Serang memiliki 310 ribu jiwa pemilih. Jumlah ini tersebar di enam kecamatan yang masuk dalam wilayah Kota Serang. Dengan rincian, Kecamatan Serang 118.894 jiwa, Kecamatan Cipocok 43.027 jiwa, Kecamatan Kasemen 41.515 jiwa, Kecamatan Taktakan 54.515 jiwa, Kecamatan Walantaka 38.942 jiwa, dan Kecamatan Curug 20.567 jiwa. 

Data tersebut diambil dari jumlah penduduk yang memiliki kartu tanda penduduk (KTP), dikurangi jumlah anggota TNI Polri. Anggota TNI Polri diperkirakan sebanyak 7 ribu jiwa. Sehingga, jumlah penduduk Kota Serang yang memiliki KTP, termasuk juga TNI Polri sebanyak 317.460 jiwa. 

Terkait dilantiknya Asmudji HW sebagai Penjabat Wali Kota Serang, Anggota DPR dari daerah asal pemilihan Banten satu Aly Yahya mengaku, Asmudji merupakan pribadi yang tepat karena ia memiliki pengalaman dan kemampuan yang menunjang dalam memimpin Kota Serang. 

“Tugas utama Pak Asmudji ialah mempersiapkan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah-red) pada tahun 2008. Rencana penyusunan tata ruang kota juga merupakan tugas yang tidak kalah penting yang harus diemban Asmudji. Tata ruang Kota Serang saat ini cukup memprihatinkan. Pembangunan mall di area pusat pemerintahan, jelas kurang tepat,” jelas Aly Yahya. 

Untuk diketahui, Asmudji mengawali karir PNS-nya sebagai mantri polisi di Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang ini. Alumnus Institut Ilmu Pemerintahan yang memiliki tiga orang anak ini juga pernah menjadi staf ahli Bupati Pandeglang. 


Sejarah Wilayah SerangSeperti kota lainnya, Kota Serang pun memiliki sejarah yang unik. Secara berkala kami akan memuat kisahnya. Untuk edisi kali ini, kami mengajak Anda mengenal wilayah induknya, Kabupaten Serang, terlebih dahulu. 

Pemerintah Kabupaten Serang telah menetapkan tanggal 8 Oktober 1926 sebagai hari lahir Kota Serang. Hari di mana pusat pemerintahan Kerajaan Banten dipindahkan dari Banten Girang, tiga kilometer dari Kota Serang, ke daerah pesisir utara yang saat ini dikenal sebagai Banten Lama. 

Kabupaten Serang resmi dibentuk pada tahun 1918, dengan Pangeran Aria Adi Antika sebagai bupati (saat itu disebut regent-red) pertama. Saat itu, Kompeni Belanda di bawah pimpinan Gubernur Vander Capellen mengambil alih kekuasaan Banten dari Sultan Muhammad Rafiudin, dan membagi wilayah menjadi tiga kabupaten, yakni Serang, Lebak, dan Caringin. 

Terlepas dari itu, sejarah Kabupaten Serang tidak bisa dipisahkan dengan sejarah Banten. Sebuah kerajaan Islam sempalan dari Kerajaan Demak dengan Maulana Hasanudin sebagai raja pertama. 
Di bawah pemerintahan Maulana Hasanudin, pelabuhan Banten menjadi bandar besar, tempat persinggahan utama perdagangan antarpulau dan antarnegara. Pesatnya pertumbuhan perdagangan di Banten, juga ditandai dengan adanya tiga pasar di sekitar kota. 

Daerah Karangantu di sebelah timur kota, menjadi pusat transaksi pedagang dari Portugis, Arab, Turki, Cina, Birma, Melayu, Benggala, Gujarat, Malabar, dan Nusantara. Pasar di sebelah Masjid Agung, menjadi pusat jual-beli rempah-rempah, buah-buahan, tekstil, hewan, sayur-mayur, dan berbagai macam senjata. Pasar ketiga berada di daerah pecinan, yang dibuka sepanjang hari hingga malam. 

Selain sistem barter, Banten juga telah mengenal mata uang, yakni real Banten dan cash china, sebagai alat tukar. 

Perdagangan semakin maju pasca wafatnya Maulana Hasanudin tahun 1570. Maulana Yusuf, pengganti raja pertama, berhasil menjadikan Banten sebagai pusat pergudangan, atau penyimpanan barang untuk didistribusikan ke seluruh nusantara maupun luar negeri. 

Selain perdagangan, Maulana Yusuf juga mengembangkan sektor pertanian. Ia meminta rakyat untuk membuka lahan pertanian baru, sehingga sawah di Banten bertambah luas (melebihi luas wilayah Serang saat ini). Sebagai penunjang, raja juga membuat irigasi dan bendungan-bendungan, dan sebuah danau yang dinamai Tasikardi. 

Sejak saat itu, rakyat Banten hidup tentram, makmur dan sejahtera menikmati kejayaan Kerajaan Banten. Hingga pada masa pemerintahan Sultan Abdul Mufakir Mahmud tahun 1596-1651, rakyat mulai menderita karena maraknya penyelewengan dan perebutan kekuasaan.


Industrialisasi Setelah mengalami keterpurukan, Serang berusaha untuk membangun kembali masa keemasan. Pada tahun 1960-an, industrialisasi mulai merambah daerah utara Banten, tak terkecuali Serang. 

Kawasan Serang Timur yang membentang dari Ciruas, Kibin, Cikande, Jawilan, hingga perbatasan Kabupaten Tangerang dan Lebak, menjadi kawasan industri. Badan Pusat Statistik (BPS) Banten mencatat, sedikitnya 177 perusahaan dengan 71.740 tenaga kerja berdiri di Serang. 

Bahkan menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Banten, Serang memiliki delapan kawasan industri. Antara lain, Langgeng Sahabat Industrial Estate, Nikomas Gemilang Industrial Estate, Pancatama Industrial Estate, Moderen Cikande Industrial Estate, Samanda Perdana Industrial Estate, Saur Industrial Estate, Kawasan Industri Terpadu MGM, dan Jababeka Cilegon Industrial Estate. Kedelapan kawasan industri itu rencananya akan menempati lahan seluas 4.712 hektar. 

Pesatnya pertumbuhan ekonomi juga terlihat dari banyaknya pusat perdagangan di Kota Serang, seperti Pasar Induk Rau, Pasar Lama, dan kawasan Royal. 


SenjangPemerintah boleh berbangga hati dengan keberhasilan industrialisasi di Serang. Namun, kesenjangan akibat dampak industrialisasi tidak bisa diabaikan. 

Perkembangan industri mengakibatkan lahan pertanian di Serang, terutama di sepanjang pantai utara dan kawasan timur, semakin menyempit. 

Penyempitan lahan persawahan, mengakibatkan banyak penduduk kehilangan pekerjaan. Banyak juga petani yang tidak lagi memiliki sawah, dan menjadi buruh tani musiman. 

Selain itu, warga yang memiliki tambak ikan ataupun di udang di pantura juga semakin merana. Beberapa tahun terakhir, hasil tambak mereka turun karena pertumbuhan ikan terganggu. Warga menduga hal itu terjadi akibat air tambak telah tercemar limbah industri yang mengalir ke laut. Hal itu menjadi pemicu pertumbuhan keluarga miskin di Serang. 

Jika melihat usia yang sudah 481 tahun dan bisa dianggap dewasa, seharusnya Pemkab Serang mampu menyelesaikan problem ketimpangan itu. 

Maulana Hasanudin yang memerintah dari nol tahun saja mampu mengembangkan perdagangan sekaligus mensejahterakan rakyat. Jadi, hal ini merupakan tantangan baru bagi Kota Serang. Apakah Pemerintah Kota Serang, mampu mewujudkannya atau tidak?



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

3 komentar :

  1. Slm Kenal.. sy sejak tahun 2004 s/d 2009 telah menyusun cerita/sejarah Cikande yg pernah di terbitkan di tabloid merah putih serang tahun 2010.. Jika berminat silahkan kontak sy

    BalasHapus
  2. bisa minta no hp nya ke email matoel85@gmail.com kang irfan

    BalasHapus
  3. jika berkenana boleh saya minta rekomendasi referensi buku2 yang membahas sejarah kota serang

    BalasHapus